SeKILAT Info XEONERS MALANG :

informasi hub. Leader Xeoners Malang Bro Gion (085755034062) pin 22F54B06
Tampilkan postingan dengan label Safety. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safety. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Helm Kurangi Resiko Cidera Tulang Belakang

Kesadaran biker Indonesia untuk memakai helm kian hari semakin tinggi. Bukan sekedar takut kena razia Pak Polisi, tapi sudah makin peduli akan keselamatan pribadi.

Tapi ternyata, helm tidak hanya mampu melindungi kepala dari benturan. Tapi juga bisa mengurangi resiko cidera tulang belakang.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Adil H. Haider dalam laporan penelitiannya. Dr. Adil H. Haideradalah seorang asisten professor kedokteran bedah dari Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Amerika Serikat.

Seperti dilaporkan Visor Down, lebih dari 40.000 tabrakan sepeda motor antara 2002 hingga 2006 Ia teliti dampaknya. Hasilnya, mereka yang memakai helm hanya memiliki kemungkinan 22 persen mengalami cidera tulang belakang serviks.

Penelitian ini juga menemukan bahwa mereka yang memakai helm, 65 persen lebih rendah kemungkinannya menderita cedera otak trausmatic.

Dan yang paling penting, biker yang memakai helm 37 persen lebih rendah kemungkinannya untuk kehilangan nyawa daripada mereka yang tidak memakai helm.

Nah, masih berfikir untuk tidak pakai helm atau pakai helm asal-asalan?



Sumber :
1. Penulis : Popo | Teks Editor : Nurfil | Foto : Visordown
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/02/17/316114/53/14/Helm-Kurangi-Resiko-Cidera-Tulang-Belakang

Senin, 18 April 2011

Ban dan Pelek Kecil Jangan Diperlakukan Sama!

Karakter dan performa mengurangi safety

Virus atau tren montor pakai kaki-kaki kecil masih ramai. Maksudnya, penggunaan ban dengan tapak kecil. Bahkan, umumnya banyak yang pakai ban dan pelek biasa dipakai untuk drag bike yang balap di trek lempeng aja itu. 

Boleh dan silakan aja? Kan yang punya motor dan duit, brother sendiri. Tapi tetap harus yang ada dipahami. “Ada perubahan karakter pakai ban dan pelek tapak kecil untuk harian seperti di motor drag,” tandas Anak Agung Surya Adicipta, instruktur safety riding dari PT Astra Honda Motor (AHM). 

Menurut Made Surya, panggilan akrab Anak Agung Surya Adicipta, ukuran ban dan pelek sudah disesuaikan desain dan performa. Makin kecil, artinya ukuran tingkat safetynya berkurang. “Misal, saat ngerem. Beban motor pastinya akan pindah ke depan,” wanti Made Surya yang tinggi besar ini. 

Untuk itu, penting diperhatikan adalah saat melakukan pengereman dan ketika menikung. Titik ngebrake harus lebih jauh. Gerak tangan menekan tuas rem harus lembut.  

Juga, jangan menikung terlalu miring. Diajak rebah nikung ekstrem, area traksi ban dan pelek drag look jauh lebih kecil. Kemiringan gak bisa disamakan. seperti ketika pakai roda estede.  

Intinya, jangan diperlakukan sama!

Sumber :
1. Penulis : Niko | Teks Editor : Nurfil | Foto : Yudi
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/02/24/316354/53/14/Ban-dan-Pelek-Kecil-Jangan-Diperlakukan-Sama

Jumat, 15 April 2011

Bikin Parking Brake Lock Skubek

Berpikir safety, sangat baik! Terutama di kondisi jalanan seperti sekarang ini. Tetapi, akan lebih baik lagi jika tidak hanya safety gear alias pakaian berkendara saja yang dipikirkan. Safety di motor juga harus dong.

Terlebih untuk pacuan matik alias skubek yang tidak aplikasi transmisi percepatan. Jika besutan di parkir dalam kondisi turunan atau menanjak, motor yang punya transmisi agak bisa lebih aman. Yaitu, cukup masukan gigi untuk mencegah motor nyelonong. Baik itu mundur atau maju.

Tapi di matik, tentu tidak bisa diperlakukan seperti itu dong. Tidak ada gigi yang menahan gerak motor. Dan juga, tidak semua skubek yang mengaplikasi penghenti laju kendaraan ketika parkir atau diam.

Seperti misalnya, yang terdapat di skubek Honda yang menyebut fitur ini dengan sebutan parking brake lock atau, di pacuan baru Yamaha yang baru aja nonggol Januari lalu. Yap! Yamaha Lexam yang bebek matik alias betik sudah mengaplikasi fitur safety ini dengan sebutan rear hand brake.

Meski Honda dan Yamaha punya sebutan dan cara pengoperasian berbeda, tapi fungsinya sama. Fitur ini untuk mengunci atau menahan tuas rem belakang agar tidak kembali ke posisi semula. Kondisi ini, membuat rem belakang terus mengunci. Sehingga, motor atau roda belakang jadi tidak bergerak.

Tetapi, buat sobat yang motornya belum dilengkapi fitur parking brake lock bisa kok mencomot atau pasang teknologi ini ke pacuan kesayangan. Yaitu, pakai punya part Honda.

Sayangnya, tidak semua part Honda yang bisa diaplikasi. Karena dudukan tuas rem Honda BeAT dan Vario menyatu dengan setang. Paling pakai punya Honda Scoopy,” beber Keling dari Workshop Autosonic di Perigi, Tangerang, Banten.

Bisa pakai punya Honda Scoopy
Setidaknya, empat part harus dibeli untuk melengkapi fitur ini. Pertama, tuas rem Scoopy yang tuasnya ada coakan. Dijual Rp 16.200. Lalu, dudukan handel rem itu sendiri yang dibanderol Rp 32 ribu. Part ketiga, parking lock yang ditawarkan Rp 9 ribu dan per yang dijual Rp 600.

Tapi, ada juga sih part lainnya. Yaitu, switch rem belakang yang punya dudukan di handel rem. Part ini dijual Rp 20 ribu. Tapi kalau kabel rem sendiri, itu masih bisa pakai part yang standar bawaan motor yang sudah ada kok.

Semua part ini dijual terpisah. Jadi, sobat kudu merakitnya. Setelah pasang dudukan handel rem belakang, pasang tuas rem dan kabelnya dulu.

Sebab jika parking lock sudah dipasang duluan, maka kabel rem tidak bisa masuk. Bandul kabel rem, terhalang besi tengah parking lock ketika ingin dipasangkan ke tuas rem.
Pasang klip setelah rakit parking lock

Kini, motor dan sobat pun bisa lebih santai. Tidak cuma saat parkir, tapi termasuk ketika berhenti di jalan menanjak atau menurun. Tangan bisa bebas dengan cukup mengaktifkan parking brake lock.



Sumber :
1. Penulis : Eka | Teks Editor : Nurfil | Fotografer : Eka
2. http://ototips.otomotifnet.com/read/2011/03/11/316839/226/27/Bikin-Parking-Brake-Lock-Seperti-Skubek-Honda

XEONERS MALANG