SeKILAT Info XEONERS MALANG :

informasi hub. Leader Xeoners Malang Bro Gion (085755034062) pin 22F54B06
Tampilkan postingan dengan label Helm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helm. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2011

Busa Helm Penting, Untuk Kelancaran Darah

Busa pas mengempit pipi dengan nyaman
Ada catatan penting dalam kesehatan pengendara berkaitan dengan helm. Jangan pernah abaikan kondisi pelapis dalam helm. Baik itu kain, busa ataupun sterofoam-nya. Ini kunci dari tujuan helm itu untuk melindungi.

Seperti sudah disebut pada artikel kesehatan helm, kebersihan pelapis dalam amat penting. "Tapi, lebih penting, pelapis dalam harus pas dengan kepala. Harus bisa mengempit batok kepala hingga pipi dengan pas dan nyaman," tegas Henry Tejakusuma Marketing Director PT Tarakusuma Indah, produsen helm KYT dan INK.

Soal ukuran ini jadi sangat penting bagi kesehatan. Sebab, bila merasa nyaman sewaktu memakai helm, maka pengendar bisa lebih nyaman menghela kuda besi. Secara medis, bisa disebut, kenyamanan helm berkaitan dengan aliran darah ke otak dan ke mata.

 "Helm yang busanya terlalu sempit mengempit kepala hingga pipi membuat aliran darah di kepala jadi nggak lancar. Biasanya membuat pemakainya cepat pusing dan terasa pegal di leher. Mata pun jadi nggak bisa jelas memandang," ulas dr. Adrian Tio, yang biasa berurusan dengan pembalap.

Perlu juga diperhatikan bagi pengendara yang pakai kacamata. Baiknya memilih helm full-face yang punya alur untuk gagang kacamata. Sebab, gagang yang terjepit busa bisa menekan ke pelipis.

Akibatnya, nadi darah ke mata malah jadi terganggu. Tetapi bukan berarti helm dengan busa yang lebih longgar jadi lebih baik. Jelas salah total. Sebab, fungsi helm sebagai pelindung malah bisa hilang. Justru makin berbahaya jika terjadi benturan mendadak.

"Desian helm, mulai cangkang, sterofoam, hingga busanya disiapkan untuk meredam benturan. Jika tidak ngepas di kepala, malah membuat benturan ke kepala bertambah," tegas Endin, dari bagian teknik helm Cargloss AHRS.
Jika pakai kacamata, busa harus ada ruang di pelipis
 Ditimpali Johannes Cokrodiharjo dari Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI). Sangat berbahaya  memakai helm longgar di kepala pemakainya.

"Karena jika terjadi kecelakaan banyak meninggalkan ruang kosong di helm tersebut. Bahkan helm bisa terlepas dari kepala pengendara meskipun tali pengikat terpasang," jelas pria yang menjabat Dirketur Dinaheti Motor Industri, produsen helm NHK.

Menguji busa helm pas, bisa dirasakan. Pertama, pipi harus terasa tertekan busa. Dilanjutkan dengan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Helm harus tetap mengikuti arah gerakan kepala. Jika ada gerakan yang masih menggangu, ukuran helm masih kebesaran.

Mengukur beratnya, jika kepala bagian atas terasa tertekan, berarti bobot helm terlalu berat. Dan, jika pandangan ke depan dirasa berat dalam waktu 1 menit, berarti bagian ini memang masih dirasa terlalu sempit.  (www.motorplus-online.com)

Jumat, 22 Juli 2011

Jauh Dekat Pakai Helm

HELM bagi pemotor, bak ikan dengan air. Saling melengkapi. Rasanya gak afdol, bersepeda motor tanpa memakai helm di kepala.
Masyarakat luas sudah tahu fungsi helm, melindungi kepala dari risiko lebih fatal ketika terjadi benturan. Misalnya, jika polos tanpa helm bisa bikin batok kepala bocor, berkat perlindungan helm paling banter sedikit puyeng. Tentu jika tingkat benturan tidak setingkat dilindas truk kontainer.
Belakangan ini, helm bahkan menjadi aksesoris gaya hidup. Banyak corak dan tampilannya. Mulai dari grafis, hingga warna-warna tertentu.
Di negara kita pemerintah menelorkan SNI wajib bagi produsen helm. Selain itu, dalam aturan UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ( LLAJ) ada ketentuan pemotor dan pemboncengnya wajib memakai helm. Ketentuan tersebut bermuara pada keselamatan. Maklum, mayoritas kematian kecelakaan lalu lintas yang diderita pemotor akibat luka di kepala.
Kecelakaan tak mengenal jarak. Bisa terjadi setiap saat. Karena itu, mutlak kita mengantisipasi risiko yang terjadi. Lebih baik repot sedikit memakai helm, ketimbang mengobati luka di rumah sakit. Ibarat kata, sedia payung sebelum hujan.

Oh ya, selain melindungi benturan, helm juga berfungsi mengurangi serbuan debu dan angin ke wajah pemotor. Termasuk mengurangi silau cahaya yang menerba mata kita.

Jadi, jauh dekat sama saja, helm melindungi diri dari risiko lebih fatal akibat kecelakaan.

Sumber :
1. oleh Edo Rusyanto

Selasa, 26 April 2011

Helm Kurangi Resiko Cidera Tulang Belakang

Kesadaran biker Indonesia untuk memakai helm kian hari semakin tinggi. Bukan sekedar takut kena razia Pak Polisi, tapi sudah makin peduli akan keselamatan pribadi.

Tapi ternyata, helm tidak hanya mampu melindungi kepala dari benturan. Tapi juga bisa mengurangi resiko cidera tulang belakang.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Adil H. Haider dalam laporan penelitiannya. Dr. Adil H. Haideradalah seorang asisten professor kedokteran bedah dari Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Amerika Serikat.

Seperti dilaporkan Visor Down, lebih dari 40.000 tabrakan sepeda motor antara 2002 hingga 2006 Ia teliti dampaknya. Hasilnya, mereka yang memakai helm hanya memiliki kemungkinan 22 persen mengalami cidera tulang belakang serviks.

Penelitian ini juga menemukan bahwa mereka yang memakai helm, 65 persen lebih rendah kemungkinannya menderita cedera otak trausmatic.

Dan yang paling penting, biker yang memakai helm 37 persen lebih rendah kemungkinannya untuk kehilangan nyawa daripada mereka yang tidak memakai helm.

Nah, masih berfikir untuk tidak pakai helm atau pakai helm asal-asalan?



Sumber :
1. Penulis : Popo | Teks Editor : Nurfil | Foto : Visordown
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/02/17/316114/53/14/Helm-Kurangi-Resiko-Cidera-Tulang-Belakang

XEONERS MALANG