SeKILAT Info XEONERS MALANG :

informasi hub. Leader Xeoners Malang Bro Gion (085755034062) pin 22F54B06
Tampilkan postingan dengan label Pelek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Skutik Pakai Lingkar Roda 17 inci, Apa Konsekuensinya?

Banyak scooteriz yang meng ubah ukuran peleknya dari 14 inci jadi 17 inci, atau biasa disebut Thai-Look. Alasannya bikin lebih ringan dan tampil lebih modis. Nah setelah ikut mengaplikasi, apa sih efek atau konsekuensi yang terjadi dan harus diterima, baik itu terhadap performa maupun handling? 

“Efek paling terasa tarikan di putaran bawah pasti lebih berat,” tegas Anggi, mekanik spesialis skutik dari bengkel R59 di kawasan Ciputat, Tangerang, Banten. 

Sedang pada putaran atas nafasnya malah jadi jauh lebih panjang. Karena dengan diameter roda lebih besar, pada putaran mesin yang sama, jangkauan roda saat berputar jadi lebih jauh. 
Nah untuk mesin yang sudah dioprek, naikin kompresi dan atur ulang berat roller (kiri). Untuk mesin standar, jika tetap ingin gesit bisa diatasi dengan mengganti per CVT yang lebih keras (kanan)

Kalau ingin tarikan bawah tetap ngacir, mekanik yang menyabet gelar the best mekanik matik di ajang OMR Honda itu punya tipsnya. Khusus skutik dengan mesin standar, “Paling gampang ganti per CVT pakai yang sedikit lebih keras.” Efeknya tekanan puli sekunder ke V-belt jadi lebih kuat, gejala selip bisa diminimalkan, makanya tetap gesit.

Beda cara jika mesin memang sudah dioprek, terutama yang bore-up ringan. “Naikin saja rasio kompresinya,” papar mekanik yang tinggal di kawasan Pasar Ciputat itu.

Dengan kompresi lebih besar, ledakan di putaran bawah maka lebih kuat. Skutik kesayangan pun makin ngacir. Nah kalau mau lebih sempurna sekalian mainkan roller, Anggi memberi saran agar bobotnya diperingan, tapi cukup 1-2 gram.

Performa kelar, gimana dengan handling? Nah ini yang mesti diperhatikan. Butuh adaptasi ulang, karena handling jadi sangat berbeda. Motor jadi sedikit kurang lincah, di tambah jangan sembarangan rebah di tikungan.

Kenapa? Karena paling besar ban yang bisa masuk hanya ukuran 80/80-17. Itu pun khusus skutik Honda dan Suzuki. Kalau Yamaha mentok 70/90-17.

Efeknya jelas tapak ban sangat sempit, kalau rebah minim grip, jadi mesti lebih pelan di tikungan. Apalagi jika ditambah aspal basah atau berpasir.
Jangan tertipu dengan jarum spidometer, karena jadi sedikit lebih ‘malas’

Efek lain setelah ganti ukuran pelek adalah ngaco-nya spidometer. Ngaco bukan dalam artian jarum jadi naik-turun. Namun pembacaan jadi lebih pelan. Kalau masih pakai pelek 14 inci tertera 60 km/jam, kalau sudah ganti 17 inci bisa hanya sekitar 40 km/jam.

Kenapa begitu? Dikarena kan untuk menempuh jarak yang sama, dengan diameter lebih besar butuh putaran roda lebih sedikit. Makanya spido jadi lebih pelan. So hati-hati ya, jangan tertipu.

Oh ya, satu lagi efek yang jangan dilupakan adalah konsumsi bahan bakar. Dijamin motor lebih rakus minum bensin, karena beban mesin memutar roda lebih berat. “Lebih boros sekitar 30% dibanding saat ukuran pelek masih standar,” tutup Anggi

Sumber :
1. Penulis : Aant | Teks Editor : AZ | Fotografer : Aant

Jumat, 06 Mei 2011

Pelek Jari-Jari Di Lakban, Biar Lebih Rapat

Ditekan biar lubang pori-pori rapat
Pelek jari-jari rawan karat. Itu karena air kotor dari luar gampang masuk lewat pori-pori lubang nipel. Makanya biar nggak tumbuh korosi, oleh tukang setel pelek dilapis karet ban dalam potongan yang dipasang melingkar.

Selain meredam air, potongan karet ban juga menahan melindungi ban dalam dari batang ujung jari-jari. Apalagi kalau batang jari-jari terlalu panjang dan nongol. Ban dalam rawan bocor akibat tertusuk.

Masalahnya, kadang karet ban dalam potongan enggak menutup rapat. Masih ada celah, memudahkan air nyusup. “Biar lebih terlindungi, pakai lakban atau isolasi bahan plastik tebal berwarna hitam. Selain merekat kuat, lebih rapat juga tidak gampang bergeser kalau ban gembos. Dijamin air nggak masuk,” garansi Marwan, tukang setel pelek Anugrah di Jl. Kafi II, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Lanjut Marwan, lembaran perekat seharga sekitar Rp 20 ribuan ini juga mudah didapat. Nah, kalau memang sudah tersedia, tinggal dipraktikkan. “Tapi jangan lupa juga menyiapkan cutter untuk memotong lebar juga panjang lakban sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Tinggal lilitkan lakban di lingkar, di mana nipel dan ujung batang jari-jari dipasang. Dan biar enggak repot waktu ban dalam dan luar dipasang, proses liilitan dimulai dari lubang pentil. Dari lubang pentil awal, lakban terus dililitkan hingga ketemu lubang pentil di ujung berikutnya.

Biar daya rekatannya lebih rapi dan tidak bocor, bekas lilitan ada baiknya dibikin merata dengan cara ditekan. Baru kemudian ujung lakban dipotong pisau.



Sumber :
1. Penulis : KR15 | Teks Editor : Nurfil | Foto : Yudi
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/04/23/318400/226/27/Pelek-Jari-Jari-Di-Lakban-Biar-Lebih-Rapat

Selasa, 03 Mei 2011

Pilih Pelek Palang atau Jari-Jari? Jangan Mudah Tersipu Palang!

pemilik motor usia pakai di atas tiga tahunan kerap mengeluh. Laher roda di teromol pelek jari-jari cepat sekali oblak. Padahal kondisi bearing roda masih dalam kondisi baru.

Dari hasil analisis yang dilakukan mekanik, terdeteski kalau lubang dudukan laher di tengah teromol sudah mulai pada aus. Bahkan saking parahnya, pegangan jari-jari dan pelek itu juga sudah minta segera diganti baru jika ingin kondisi kembali normal.

Gak heran keputusan yang diambil pemilik motor tipe bebek itu lebih memilih ganti pelek palang (racing) non OEM daripada harus pakai pelek jari-jari lagi.

Seperti diketahui, pelek palang non OEM yang kualitas nomor sekian masih sangat diragukan. Apalagi harga pelek itu dilego sekitar Rp 300 ribuan untuk satu set (depan-balakang).

Asumsi pemilik motor, mengganti pelek jari-jari dengan pelek palang non OEM katanya lebih murah, mudah dan proses pasangnya lebih cepat. Sebab komponen yang musti disiapkan hanya membeli pelek palang dan laher roda.

Alasannya sih masuk di akal dari segi ekonomis dan waktu. Kalau dihitung, memang jauh lebih murah dibanding ganti satu set pelek model jari-jari lagi. Karena untuk perbaikan satu roda aja, part yang musti disiapkan konsumen di antaranya teromol, 2 buah laher roda, jari-jari serta pelek besi jika kondisi sudah mulai berkarat

Maka dana yang mesti disiapkan untuk memperbaiki 1 roda, konsumen wajib megadakan uang kurang lebih Rp 250 ribuan. Total merupakan estimasi harga satu set pelek jari-jari belakang yang selisih harganya lebih mahal sedikit dari depan.

Namun begitu, Sugeng Riadi kepala mekanik resmi Suzuki Pondok Labu, mewanti
kalau harga satu pelek palang masih di bawah Rp 500 ribuan, disarankan memilih kembali pasang pelek jari-jari asli yang sudah teruji kualitasnya. Apalagi kalau konsumen ingin mengejar unsur safety.

“Bahkan kalau kondisi pelek besi masih bagus, konsumen tidak perlu lagi beli komponen ini. Sehingga dana yang masih bisa disimpan sekitar Rp 100 ribuan, untuk harga pelek OEM ukuran 1,60x17 inci buat bebek merek Suzuki di bengkel resmi,” imbuh mekanik yang praktik di Jl. RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Dengan kondisi begitu, part yang mesti disiapkan konsumen di antaranya teromol seharga Rp 120 ribuan untuk ban belakang, 2 buah laher @ Rp 25 ribuan dan jari-jari seharga Rp 19 ribuan. Banderol segitu merupakan HET atau Harga Eceran Tertinggi di pasaran dan belum termasuk ongkos pasang dan setel jari-jari di kisaran Rp 15 ribuan per pelek.

Tapi, kenapa ya Sugeng menyarankan konsumen lebih baik pakai pelek jari-jari asli, dibanding pelek palang non OEM yang harganya di bawah @ Rp 500 ribuan. Menurut mekanik ramah ini, pelek palang non OEM atau imitasi biasanya rawan patah kalau kena benturan keras.

Sedangkan pelek palang orisinal yang harganya di atas Rp 500 ribuan, kalau kena benturan keras biasanya cuma bengkok. Hal yang sama jika pelek model jari-jari asli kena benturan keras. Paling parah bengkok dan tidak pernah sampai patah berantakan.

“Keunggulan lain dari pelek palang asli, selain maksimal jika pasang ban tubeless. Kalau bengkoknya ringan masih bisa dipres untuk meratakan kembali permukaan bibir dudukan ban,” lanjut pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Hanya saja, bicara soal keawetan laher roda, Sugeng memaparkan kalau umur pakainya sangat tergantung dari kondisi jalan dan tentunya juga cara pakai motor sehari-hari. Juga dianjurkan untuk pakai laher yang asli supaya tidak sering keluar-masuk bengkel lagi. Ingat, laher murah biasanya juga masa pakainya tidak lama.



Sumber :
1. Penulis : KR15 | Teks Editor : Nurfil | Foto : Yudi
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/04/22/318450/226/27/Pilih-Pelek-Palang-atau-Jari-Jari-Jangan-Mudah-Tersipu-Palang

Senin, 18 April 2011

Ban dan Pelek Kecil Jangan Diperlakukan Sama!

Karakter dan performa mengurangi safety

Virus atau tren montor pakai kaki-kaki kecil masih ramai. Maksudnya, penggunaan ban dengan tapak kecil. Bahkan, umumnya banyak yang pakai ban dan pelek biasa dipakai untuk drag bike yang balap di trek lempeng aja itu. 

Boleh dan silakan aja? Kan yang punya motor dan duit, brother sendiri. Tapi tetap harus yang ada dipahami. “Ada perubahan karakter pakai ban dan pelek tapak kecil untuk harian seperti di motor drag,” tandas Anak Agung Surya Adicipta, instruktur safety riding dari PT Astra Honda Motor (AHM). 

Menurut Made Surya, panggilan akrab Anak Agung Surya Adicipta, ukuran ban dan pelek sudah disesuaikan desain dan performa. Makin kecil, artinya ukuran tingkat safetynya berkurang. “Misal, saat ngerem. Beban motor pastinya akan pindah ke depan,” wanti Made Surya yang tinggi besar ini. 

Untuk itu, penting diperhatikan adalah saat melakukan pengereman dan ketika menikung. Titik ngebrake harus lebih jauh. Gerak tangan menekan tuas rem harus lembut.  

Juga, jangan menikung terlalu miring. Diajak rebah nikung ekstrem, area traksi ban dan pelek drag look jauh lebih kecil. Kemiringan gak bisa disamakan. seperti ketika pakai roda estede.  

Intinya, jangan diperlakukan sama!

Sumber :
1. Penulis : Niko | Teks Editor : Nurfil | Foto : Yudi
2. http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/02/24/316354/53/14/Ban-dan-Pelek-Kecil-Jangan-Diperlakukan-Sama

XEONERS MALANG