SeKILAT Info XEONERS MALANG :

informasi hub. Leader Xeoners Malang Bro Gion (085755034062) pin 22F54B06
Tampilkan postingan dengan label CVT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CVT. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Engine Mounting Skubek, Cegah Getar Sekaligus Geol

 Engine mounting aftermarket juga oke asal center ketika pasang

Terpisah dari rangka, engine skubek butuh braket tambahan buat menyatukan keduanya. Tapi, buat meredam getaran, dibutuhkan engine mounting yang dibuat dari karet.

 Usia pakai dan perlakuan juga bisa membuat engine mounting ini mengalami keausan. “Meski dalam kondisi CVT yang normal pun, akan timbul vibrasi di mesin ketika part itu mulai aus,” ujar Slamet selaku Instruktur Yamaha Engineering School (YES).

Ketika dipakai, gejala keausan juga bisa dirasakan. “Ketika gas pertama kali dibuka, biasanya sudah mulai terasa getar,” bilang M. Nurgianto, racer IndoPrix yang juga balap di MOTOR Plus Indonesia Super Matic Race ini.

Kondisi seperti itu, tentu bikin handling jadi tidak nyaman. Apalagi ketika motor dipakai buat manuver di tikungan. Baik itu dalam kondisi balap atau pemakaian normal harian. Keduanya punya potensi yang sama.

Kalau kondisi part sudah parah, pasti bagian belakang akan bergoyang. Makin bahaya kalau dipakai balap dan dalam posisi menikung rebah. “Dibuka gas selepas tikungan, pasti goyang. Jadi harus menunggu kemiringan motor sedikit tegak. Kalau tidak, potensi bikin jatuh,” timpal Bram Prasetya yang pembalap.

Kalau dipaksa bermain seperti itu di balap, tentu merugikan. Artinya, bakal tertinggal dengan lawan alias kalah cepat. 

Semua getaran atau gejala yang timbul, bisa diakibatkan oleh karet engine mounting yang getas. Selain itu, posisinya sudah tidak center lagi. “Jadi, tidak ada lagi getaran yang bisa diredam sempurna,” tambah Kentar, tunner Keyspeed asal Bandung, Jawa Barat.

"Setidaknya dalam pemakaian normal usia pakai 3 tahun, sudah harus dicek kelayakannya,” saran Slamet yang berkantor di Yamaha DDS Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Tapi, gejala itu masih bisa timbul meski sudah ganti engine mounting. Penyebabnya, karena enggak center.

Maka itu, perhatikan center atau tidak posisinya ketika pasang. Ambil contoh di skubek Yamaha. Misalnya, Yamaha Mio. Sebagai panduan, lihat gambar utama. Yang pertama dilakukan, pasang sementara stopper (A) dan collar (B).

Lalu, pasang braket mesin (C) untuk sementara dengan baut (D) dan mur (E). Jika sudah, kini masukan as yang memiliki diameter 8 mm (F) yang bertujuan untuk setel posisi braket mesin.

Setelah center, kencangkan mur (E) di sebelah kiri terlebih dahulu dan diakhiri dengan baut di sisi kanan. Jika sudah, lepaskan kembali as berdiameter 8 mm (F). Selanjutnya, kencangkan baut (G) dan baut (H).


Sumber :
1. Penulis : Eka | Teks Editor : Nurfil | Foto : M.David

Kamis, 19 Mei 2011

Belt CVT Asli VS Aftermarket, Serupa Belum Tentu Sama!

Panjang belt bisa dihitung dari jumlah mata gigi

Serupa belum tentu sama alias bukan piston dibelah dua. Seperti V-belt CVT yang banyak dijajakan di pasaran. Tipe sabuk memang untuk motor yang sobat pakai, tapi belum tentu pas.

 “Ada perbedaan proses produksi antara belt untuk aftermarket dan OEM. Selisih 0,0 sekian mm meski untuk skubek yang dimaksudnya, tapi belum tentu cocok. Selisih 0,5 mm pengaruh pada kerja CVT,” pasti Nardi Reylnald Khoe, Power Transmission Belt Division Manager PT Bando Indonesia, produsen sabuk  Bando, Jakarta.

Artinya, sabuk CVT aftermarket yang jelas di kemasannya tercantum, misalnya untuk BeAT atau Vario, belum tentu pas. Bisa jadi kepanjangan atau lebih pendek 0,5 mm dari kebutuhan sabuk yang pas untuk BeAT atau Vario sobat.

“OEM dirancang dengan ukuran khusus, panjang dan lebarnya. Kalau sabuk aftermarket, diproduksi dengan mengambil ukuran rata-rata aja,” tegas Nardi yang berkantor di bilangan Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

Komponen lain bisa kena dampak

Ambil contoh problem yang dialami salah satu awak redaksi MOTOR Plus. Tiga kali servis CVT karena ada problem yang dianggap janggal. Berisik dan tenaga seperti ditahan. Enggak tahunya pilihan sabuk yang dianggap jadi masalah. Padahal, awal penggantian dipilih yang memang untuk skubek yang dipakai.

“Meski kependekan atau kepanjangan 0,5 mm pasti ada dampaknya. Paling riskan kalau kependekan,” kata Endro Sutarno dari Technical Service Training PT Astra Honda Motor (AHM), Jakarta Utara.
Selisih 0,5 mm lebih panjang atau lebih pendek untuk skubek sama

Endro ngasih saran saat membeli belt sebaiknya diukur dulu panjang dan lebar belt asli bawaan motor. Seandainya dapat belt yang lebih pendek, ada beberapa komponen yang dipastikan akan bisa atau cepat aus, atau kemungkin rusak.

"Belt yang sedikit lebih pendek paling terasa waktu putaran gas awal. Motor sudah dibuka, tapi tenaga seperti ada yang nahan,” ucap Endro yang markasnya di PT Astra Honda Training Center (AHTC), Sunter, Jakarta Utara.

Kalau putaran mesin tertahan, ada komponen yang sebenarnya bergerak bebas waktu gas dibuka tapi malah gak bekerja semestinya. Salah satunya bearing puli belakang yang berhubungan langsung dengan girboks. “Dibiarkan lama, bearing bisa rusak. Karena putarannya enggak mulus akibat belt yang kelewat pendek,” wanti Endro lagi.

Agak sedikit rada mending sabuk CVT yang ditebus sedikit molor karena efeknya hanya selip. Ciri utamanya, pas dipasang dan gas dibuka, sedikit ada gejala belt paling atas bergerak naik turun. Gerakannya seperti mau menampar cover CVT.

Sumber :
1. Penulis : Niko | Teks Editor : Nurfil | Foto : Adib


Rabu, 09 Maret 2011

Tarikan Skutik Tambah Maknyus Hanya Ganti Per CVT, Mau?


Mau tarikan mesin skutik maknyus tanpa turun mesin atau bore-up? Gampang! Salah satunya bisa siasati dari sistem transmisi di blok CVT seperti roller dan kampas ganda. Namun, sebenarnya ada satu bagian lagi yang bisa bikin tarikan jadi tambah ngacir, yakni per CVT.
“Akselerasi jadi lebih responsif, berasa nyundul.” ujar Rachmat Hidayat dari Al-Yamin Speed Shop di Jl. Kerja Bakti No.2, Kp Makasar, Halim, Jaktim.

Bisa begitu lantaran prinsip kerja per CVT ini juga berguna membantu mekanisme pada CVT itu sendiri. Tepatnya memberi dorongan puli primer pada saat terjadi gaya sentrifugal. Nah dengan begitu, gerak puli jadi lebih cepat dan responsif.

Memang banyak pilihan per, dari yang ukuran 1.000 – 2.000 rpm. Masing-masing beda racikan. Maksudnya, ukuran diameter dan kekerasan per memiliki ukuran yang berbeda sesuai kebutuhan spesifikasi mesin.

Buat mesin yang masih dalam kondisi standar, mengganti per CVT racing dianjurkan memakai ukuran 1.000 atau 1.500 rpm saja. “Kalau lebih, malah bisa bikin tarikan jadi berat dan ngempos,” jelas pria ramah ini.

Di pasaran ada merek KTC, CLD dan banyak lagi! Selain itu, harganyapun bervariatif. Ada yang buatan lokal dan impor dari Thailand. “Harga berkisar dari 75-100 ribuan. Semua tergantung dari kekenyalan atau diameter kawat yang dipakai,” ujar Komeng mekanik sekaligus empunya bengkel Clinic Motor di daerah Jl. Squadron No.14, Kp. Makasar, Jaktim.

Umumnya bahan dasar part ini dari medium carbon steel yang diproses menggunakan metode hot wire. Nah biar lebih detail, simak kehebatan masing-masing merek berikut!
per CVT Kitaco
Kitaco
Menyediakan dari ukuran 1.000-2.000 rpm. Soal harga, produk yang tersedia buat skutik jebolan Honda, Suzuki dan Yamaha ini dibanderol Rp 75 ribuan. Tapi perlu diingat! Punya Suzuki dan Honda lebih panjang dibanding punya Yamaha. Jadi jangan sampai salah beli ya!
per CVT CLD
CLD
Punya tiga warna dan ukuran. Dari merah, putih dan kuning. Warna merah dengan spek 2.000 rpm, sangat berguna buat motor yang sudah dibore-up. Untuk yang berwarna kuning, memilikki spek 1.500 rpm dan putih 1.000 rpm. Semua itu dihargai Rp 55 ribu saja.


Kawahara
Product yang diklaim buatan Thailand ini berbanderol Rp 75 ribuan. Masalah ukuran, gak jauh beda dengan kompetitornya yang memiliki beberapa tingkat ukuran.


RRGS
Harga murah, tapi bukan berarti murahan lo! Harganya hanya Rp 50 ribu. Masalah kualitas, gak kalah bersaing dengan label-label papan atas yang kerap dipakai buat ajang dragbike dan road race skutik.


TDR
Part buatan Thailand ini punya beragam ukuran tingkat kekerasan. Warna kuning berukuran 1.500 rpm, merah 2.000 rpm dan hitam ukuran 1.000 rpm. Walau beda ukuran, semuanya dipatok harga yang sama yakni Rp 50 ribu. Minat? Nah sayangnya, untuk saat ini pihak TDR hanya menyediakan per CVT buat skutik Yamaha yakni Mio Sporty dan Mio Soul.
Daftar Harga
KTC75 ribu
Kawahara75 ribu
CLD55 ribu
TDR50 ribu
RRGS50 ribu
Harga sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan lebih dahulu.
Sumber
Polaris: 021-6248852 / 6592128
F-16: 021-73446678
Al-Yamin: 021-93862330 / 0819-32653838
New Gaya Motor: 021-8510717

Sumber :
1. Penulis/Foto: DiC / Salim, Dok.Otomotif

Selasa, 01 Maret 2011

Perawatan CVT Skutik, Pahami Usia Pakainya Ya!


Tak sedikit surat pembaca masuk ke redaksi curhat soal keanehan pada bagian CVT di skutik tunggangan mereka. Terutama mengenai kendala vibrasi yang muncul. Gak jarang pula yang menanyakan bagaimana cara perawatan yang baik dan benar sesuai ajuran pabrik, serta apakah komponen CVT-nya memiliki masa pakai tertentu atau tidak?

Nah, untuk menjawab semua itu, OTOMOTIF coba meminta penjelasan dari pakarnya langsung, yakni bagian technical service beberapa pabrikan motor Jepang yang mengeluarkan motor tipe ini. Begini jawaban mereka.

"Kebanyakan kendala vibrasi yang timbul, disebabkan oleh debu dan kotoran yang hinggap dalam ruang CVT. Debu atau kotoran itu bisa dari udara luar (terisap ke dalam ruang CVT), bisa pula akibat ampas hasil gesekan belt terhadap puli," terang Endro Sutarno, Technical Service Training Instuctor PT Astra Honda Motor (AHM).

Nah, untuk menghindari hal itu, bagian ruang CVT ini pada periode tertentu disarankan untuk dibersihkan. Sayangnya, masih banyak pengguna skutik yang tidak memahami anjuran ini. Ketika melakukan perawatan rutin ke bengkel, bagian CVT sama sekali tidak ikut diservis. Paling hanya sekadar ganti oli, bersihin karburator atau filter udara saja. 

Padahal umumnya di buku pedoman perawatan yang biasa disertakan ketika membeli motor jenis ini, di dalamnya ada anjuran untuk melakukan servis bagian CVT pada periode tertentu. Apa mungkin buku pedoman itu gak pernah dibaca ya? Hayo ngaku! Hehehe.. Jadi, jangan heran ya kalau tiba-tiba muncul gejala vibrasi atau slip di komponen CVT.

Puli primer dan skunder mesti dilakukan pelumasan ulang pada periode tertentu untuk mencegah keausan

"Di skutik Yamaha, servis CVT dianjurkan minimal setiap 10 ribu km," beber Muhamad Abidin, Manager Technical Departement Service Division PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI). Item servisnya, lanjut Abidin, bukan hanya membersihkan kotoran yang nempel. Melainkan juga meliputi pemeriksaan semua komponen CVT, serta memberikan pelumasan ulang pada beberapa komponen pakai grease khusus. 

"Kalau pada produk Honda, anjuran dari pabrik servis CVT dilakukan setiap 8.000 km," tukas Wedijanto Widarso, Manager Technical Development Department AHM. Masih kata Pak Wed (sapaan akrabnya), di samping membersihkan bagian CVT serta mengecek kondisi komponennya, tiap 8.000 km juga disarankan untuk dilakukan penggantian oli girboks (gigi reduksi).


Belt Wajib diganti berkala meski secara visual terlihat masih bagus

Selain itu yang perlu diingat, ada komponen CVT yang punya masa pakai tertentu. Yakni belt. Lantaran terbuat dari bahan campuran rubber, tentu lama-lama akan mengalami keausan (umumnya makin memanjang/melar). Nah, kalau sampai melar, efeknya akan membuat daya cengkramnya terhadap puli jadi melemah. Sehingga timbul lah slip.

Pada skutik berlambang sayap mengepak, komponen ini dianjurkan untuk diganti setiap 24 ribu km. Sementara untuk semua matik Yamaha, sarannya tiap 25 ribu km. "Walaupun secara visual terlihat masih bagus," tukas Abidin.

Namun baik menurut Abidin maupun Pak Wed, periodik penggantian itu juga tergantung cara berkendara serta kondisi lingkungan. "Kalau bawa motornya sering disentak atau daerah tempat tinggalnya banyak debu, umur belt bisa lebih singkat lo," terang keduanya.

Sumber :
1. Penulis/Foto: DiC / Salim

XEONERS MALANG